Beberapa penduduk mulai saling berbisik, kebanyakan dari mereka setuju, meskipun ada juga yang masih ragu. Akhirnya, Maret mengangkat tangan, meminta perhatian. "Baiklah. Kalau ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan, aku akan memimpin suku ini ke barat bersama Lynx. Tapi kita harus bergerak cepat. Siapkan semua yang bisa dibawa. Kita tidak akan kembali."

Para tetua mengangguk setuju, meskipun ada yang melakukannya dengan berat hati. Lynx merasa lega, tapi ia tahu perjalanan ini akan sulit. Ia menatap ke arah Leena, yang memberinya senyum kecil, seolah memberi semangat.

"Kita mulai sekarang," kata Lynx, matanya penuh tekad. "Ini bukan hanya tentang bertahan. Ini tentang membangun masa depan."

Beberapa minggu telah berlalu sejak Suku Sinto meninggalkan kampung lama mereka. Perjalanan itu penuh tantangan, tapi tidak terlalu berat berkat pengetahuan Lynx tentang jalan yang aman. Mereka menghindari rawa-rawa dalam, tebing berbahaya, dan wilayah-wilayah yang dipenuhi binatang buas. Meskipun perjalanan itu melelahkan, semangat untuk menemukan tempat baru tetap menyala dalam hati setiap orang.

Akhirnya, mereka tiba di bagian barat pulau, sebuah wilayah yang lebih terlindungi. Di sana, tanahnya lebih subur, dikelilingi oleh hutan lebat yang menyediakan kayu melimpah. Tidak jauh dari perkemahan, terdapat gua dengan tambang bijih besi yang ditemukan Lynx. Tempat itu seperti menjanjikan masa depan yang lebih cerah.

"Kita akan membangun rumah baru di sini," kata Lynx ketika mereka pertama kali tiba. Suaranya lantang, penuh keyakinan. "Kita tidak akan hanya bertahan. Kita akan membuat tempat ini menjadi benteng yang tidak bisa disentuh oleh Monrest. Banyak jebakan alami disekitar sini."

Penduduk suku bersorak, kelelahan mereka seolah menghilang digantikan oleh harapan.

Hari-hari pertama di tempat baru dihabiskan dengan membangun pondasi perkampungan. Lynx memimpin setiap langkahnya. Dengan pengalamannya membuat jebakan dan pertahanan serta ilmu pengetahuan dari dunianya, ia memastikan semua orang tahu apa yang harus dilakukan.

"Untuk tahap awal ini, kita akan membagi tugas. Sebagian dipimpin Karim untuk mengumpulkan makanan untuk kita semua, sebagian lagi mulai membangun tempat tinggal, sebagian lagi bersama Leena mencari bijih besi agar kita bisa memulai pekerjaan kita membuat tempat perlindungan," Lynx mulai memberikan perintah.

Lynx mengingatkan kepada team yang mencari makanan agar mereka selalu waspada terhadap sekitar karena ada makhluk mutasi yang ganas di sekitar tempat itu. Mereka harus segera memberi tanda jika ada bahaya. Dan Lynx juga melarang team yang mencari bijih besi untuk memasuki lorong yang lain karena berbahaya. Lynx tidak ingin terjadi masalah atau ada yang tersesat. Selain itu Lynx mengajak beberapa orang untuk mencari bambu.

Dengan semangat, mereka semua mengikuti instruksi Lynx dan menjalankan tugas seperti yang sudah diberikan.

Sherly yang merasa terabaikan bertanya,"Lynx, aku ingin membantumu. Apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu?" Katanya dengan sikap genit.

Lynx melihatnya sekilas dan berkata "Sherly, ikutlah dengan Karim mencari makanan. Kamu pernah disini, pasti lebih mengenal daerah sini."

Sambil menggelengkan kepala Sherly berkata ,"Aku ingin didekatmu. Siapa tahu ada sesuatu yang kamu inginkan agar bisa aku ambilkan." Sherly bersikeras untuk tetap ada didekat Lynx.

"Aku sedang banyak yang harus diurus. kamu bisa memilih antara ikut Karim atau Leena." Kata Lynx lalu pergi meninggalkan Sherly yang kesal.

Lynx kemudian pergi bersama beberapa orang untuk mencari pohon bambu dan membawanya ke perkampungan yang sedang mereka bangun.

Beberapa jam kemudian, Leena tiba bersama kelompoknya dengan membawa keranjang besar berisi pecahan bijih besi. "Kami sudah mengumpulkan ini. Kami belum bisa mendapatkan banyak, alat yang kita bawa sangat tidak memadai untuk menggali." Kata Leena sambil menurunkan keranjang di dekat tungku."Berapa banyak yang kita butuhkan?"

"Sebanyak yang bisa kalian kumpulkan," jawab Lynx, mengangkat pecahan bijih itu dan memeriksanya. "Tapi pastikan kalian tidak mengambil risiko. Bijih ini tidak berarti apa-apa kalau kita mati untuk mendapatkannya."

Leena tertawa kecil. "Kami aman, percaya padaku."

Setelah memperhatikan bijih besi yang dibawa mereka, Ia berkata, "Untuk sementara, ini cukup. Kita akan membuat gergaji untuk memotong pohon dan membuat alat untuk menambang."

Lynx lalu memimpin tim lainnya membangun tungku besar untuk melebur bijih besi yang telah dikumpulkan. Ia berdiri di tengah lingkaran penduduk, menjelaskan desainnya dengan suara tegas.

"Kita mulai dengan membuat pondasi dari batu besar," katanya, menunjuk area tanah yang telah diratakan. "Setelah itu, kita membangun dinding tungku dari tanah liat yang dicampur dengan pasir dan jerami."

Beberapa orang mulai bekerja dengan penuh semangat, menggali tanah liat dari sungai terdekat. Lynx sendiri membantu mencampurnya dengan pasir, menciptakan campuran yang kuat untuk dinding tungku. Mereka membangun struktur menyerupai kerucut besar dengan lubang di bagian atas untuk memasukkan bahan bakar dan bijih besi.

"Lubang kecil di bagian bawah ini," kata Lynx, menunjuk dasar tungku, "akan menjadi tempat keluarnya logam cair. Jangan sampai ada celah pada dindingnya. Kalau bocor, kita bisa kehilangan semuanya."

"Lynx, untuk membuat sebanyak ini, kita butuh suhu yang sangat tinggi untuk melebur besi, dan tangan manusia tidak cukup kuat untuk memompa udara ke dalam tungku dengan konstan." Kata Leena.

"Kamu benar, kita butuh cara untuk meningkatkan panas," kata Lynx. "Itu sebabnya aku mencari bambu untuk kita membuat pompa udara."

"Pompa udara?" tanya Leena dengan dahi berkerut. "Apakah dengan cara yang sama seperti kita buat sebelumnya?"

"Kita buat sistem kincir angin," jawab Lynx. Ia mengeluarkan sketsa sederhana yang digambarnya di kulit binatang. "Bambu akan menjadi kerangka utamanya, dan daun palem akan menjadi bilah-bilah kincir. Angin akan memutarnya, dan putaran itu akan mengalirkan udara ke dalam tungku melalui pipa bambu."

Leena menatap gambar itu dengan penuh minat. "Kau yakin itu bisa bekerja?"

"Kalau kita melakukannya dengan benar, pasti bisa," jawab Lynx dengan yakin. "Aku pernah melihat sistem serupa di dunia kita, tapi bukan untuk ini. Kita hanya perlu mencobanya."

Beberapa hari kemudian, kincir angin dan tungku itu berdiri kokoh. Lynx berdiri di depannya, memandang dengan bangga hasil kerja keras mereka.

Kincir angin itu berdiri di atas tiang tinggi di dekat tungku. Bilah-bilah dari daun palem berputar perlahan di bawah tiupan angin. Tali serat yang terhubung ke katrol memutar roda di bawahnya, yang mengarahkan udara melalui pipa bambu ke dalam tungku.

"Lihat itu," kata Lynx sambil tersenyum kecil kepada Leena. "Anginnya langsung masuk."

"Luar biasa," balas Leena, matanya berbinar. "Bagaimana kau bisa memikirkan ini?"

Lynx mengangkat bahu. "Hanya melihat apa yang bisa kita gunakan dari alam. Kalau kau cukup memperhatikan, solusinya selalu ada."

Malam itu, mereka memulai proses peleburan pertama. Arang dimasukkan ke dasar tungku, diikuti dengan lapisan bijih besi yang telah dihancurkan menjadi potongan kecil. Kincir angin mulai bekerja, mengalirkan udara ke dalam tungku. Api di dalamnya menyala terang, menghasilkan panas yang luar biasa.

"Jangan terlalu dekat," kata Lynx saat beberapa orang mencoba mendekati tungku. "Suhu di sini bisa membunuhmu."

Setelah beberapa jam pembakaran, logam cair mulai menetes dari dasar tungku. Lynx menuangkan logam itu ke dalam cetakan tanah liat, membentuk batangan kecil besi mentah.

"Kita berhasil," kata Leena, suaranya penuh kekaguman.

"Belum selesai," kata Lynx sambil tersenyum tipis. "Besi mentah ini harus ditempa dulu sebelum kita bisa menggunakannya."

Lynx mengambil salah satu batang besi, memutar-mutar di tangannya sambil mengamati. "Kita akan mulai dengan membuat gergaji," katanya lantang, menarik perhatian semua orang.

"Gergaji?" Hadan, salah satu pemuda yang sering membantu Lynx, mengerutkan dahi. "Seperti apa bentuknya?"

Lynx tersenyum kecil. Ia mengambil sebatang arang dari dekat tungku, lalu membungkuk untuk menggambar di tanah. Garis-garis sederhana muncul, memperlihatkan bilah panjang dengan deretan gigi tajam di satu sisi, yang terhubung ke gagang kayu.

"Seperti ini," jelasnya. "Bilah logam panjang dengan gigi-gigi tajam. Kita gunakan untuk memotong kayu lebih cepat dan lebih rapi. Pegangan kayu di sini," ia menunjuk pada bagian gagang, "akan membuatnya lebih mudah digunakan."

"Potong kayu lebih cepat?" Hadan menatap gambar itu dengan penuh minat. "Itu... kedengarannya hebat."

"Tidak hanya hebat," Lynx menatapnya tajam. "Ini akan menghemat waktu dan tenaga kita. Kalau kita bisa memotong kayu lebih cepat, kita bisa menyelesaikan pagar, rumah, dan jebakan dalam setengah waktu."

"Baiklah," ujar Karim, yang berdiri di dekatnya sambil melipat tangan. "Apa yang harus kita lakukan, Lynx?"

Lynx memimpin mereka menuju tungku. "Kita mulai dengan bilah gergaji. Panaskan batang besi ini sampai merah membara."

Hadan mengangkat salah satu batang besi, memasukkannya ke dalam tungku. Api menyala terang, memantulkan cahaya pada wajah-wajah yang penuh perhatian. Beberapa saat kemudian, batang besi itu mulai memerah.

"Sekarang," kata Lynx, mengambil dengan sebuah penjepit. "kita bentuk bilahnya. Karim, ambil palu."

Karim langsung mengambilkan batu yang kokoh, saat menemukannya, Lynx menyebutnya sebagai pengganti palu, alat untuk memukul.

Karim mengangguk dan mengambil palu batu dari meja. Lynx meletakkan besi itu di atas landasan batu, lalu memberi aba-aba. "Hantam bagian ini. Kita butuh bentuk yang panjang dan tipis."

"Begini?" tanya Karim sambil mengangkat palu batu.

"Hati-hati," ujar Lynx, mengangkat tangannya untuk menghentikan. "Pastikan pukulanmu merata. Kalau terlalu keras di satu sisi, bilahnya akan bengkok."

Karim mengangguk lagi, lalu mulai memukul dengan mantap. Suara dentingan logam memenuhi udara, membuat beberapa orang berhenti bekerja untuk melihat proses itu. Setelah beberapa kali pukulan, batang besi itu mulai memanjang dan menipis.

"Bagus," kata Lynx sambil memeriksa hasilnya. Ia lalu mengambilnya dan mulai mengasah salah satu sisinya dengan batu pasir besar. "Sekarang, kita buat gigi-giginya."

Leena, yang duduk di dekat tumpukan batu pasir, mendekat. "Bagaimana caranya membuat gigi-gigi itu?"

Lynx mengangkat pahat kecil dari meja. Sebelum membuat gergaji, Lynx sudah menyiapkan pahat terlebih dahulu dengan cara memukul perlahan hingga ujung batang besi itu mulai membentuk sudut tajam.


